Shale Gas

Shale gas adalah gas alam yang terdapat di dalam formasi batuan shale, tergolong sebagai unconventional gassebagaimana halnya dengan coalbed methane (CBM).  Hanya formasi shale dengan karakteristik tertentu saja yang dapat memproduksi gas (source rock dalam lingkungan thermogenik, radiasi gamma tinggi menandakan kandungan karbon organik 0.5% – 25% , mudah retak dan kaku sehingga mudah difracturing).  Pada zaman dahulu, unconventional gas tidak diproduksi karena dianggap tidak ekonomis, dan gas yang terjebak dalam batuan shale dianggap sulit untuk diproduksi. Namun, penemuan teknologi modern penciptaan fraktur artifisial yang ekstensif di seputar lubang sumur, telah menciptakan fenomena shale-gas boom yang memberikan harapan akan tambahan cadangan sumber daya dan cadangan energi gas dunia.

Beberapa negara yang diketahui memiliki cadangan shale gas adalah Amerika Serikat (AS), negara-negara Uni-Eropa, China dan India. Dimana AS merupakan negara yang memiliki potensi resource shale gas terbesar yaitu sebesar 1.836 Tcf (The Potential Gas Committee, Juni 2009) atau dapat disetarakan dengan dua kali potensi minyakSaudi Arabia. Tahun ini, produksi gas AS  melampaui produksi gas Rusia dan menggeser posisi Rusia sebagai produsen gas nomor satu di dunia, dimana sekitar 50% produksi gas AS merupakan unconventional gas. Penemuan ini akan merubah konstelasi geopolitik dunia. Efek geopolitiknya, AS akan dapat mengurangi ketergantungan pasokan LNG dari negara-negara Afrika dan negara-negara Timur Tengah, dan negara-negara Eropa juga dapat  mengurangi ketergantungan akan pasokan gas dari Rusia.

Produksi shale gas dimulai di AS di formasi shale Barnett di Fort Worth, Texas. Penemuan ini telah mendorong kegiatan eksplorasi shale gas di berbagai negara seperti Canada, Inggris, Jerman, Swedia, Hungaria, Polandia, Austria, Hungaria, Austria, China, India, dan Australia. India adalah negara pertama di Asia yang berhasil mengeksplorasi shale gas dengan sumur R & D pertamanya RNSG-1 di daerah Durgapur, West Bengal pada 25 Januari 2011. Meskipun baru dalam tahap assesment, keberhasilan ini telah memupuk harapan untuk pemenuhan kebutuhan gas domestik India yang terus meningkat. Akibat penemuan “unconventional shale gas”  ini, ahli gas senior IEA (International Energy Agency) mengatakan, dengan laju konsumsi gas seperti saat ini, dunia masih akan memiliki cadangan gas sebesar 250 tahun lagi.

Tren penggunaan gas sejalan dengan gerakan reduksi emisi yang terus menjadi perhatian masyarakat dunia. Tidak seperti halnya batubara, pembakaran gas tidak menghasilkan merkuri. Namun, di tengah harapan dari penemuanshale gas ini, muncul  kekhawatiran terjadinya penundaan pengembangan pemanfaatan energi terbarukan. Hal ini dapat dipahami dengan melihat fenomena perkembangan harga gas dunia yang terjadi dalam periode 15 tahun terakhir.  Terjadinya produksi besar-besaran di AS saat ini, menyebabkan menurunnya harga gas. Pada tahun 1995-2005, harga jual pada kontrak gas mengikuti harga minyak dunia, yaitu sekitar 80% dari harga crude west texas. Dengan adanya shale gas boom, harga gas pada tahun 2006-2010 berkisar 49% dari harga minyak, dan pada tahun ini harga gas rata-rata sekitar 28% dari harga minyak. Penemuan shale gas telah merubah perilaku harga gas dunia yang sebelumnya harga gas akan naik ketika harga minyak naik, saat ini harga gas tidak lagi naik mengikuti harga minyak. Hal ini akan mempengaruhi pula harga jual listrik yang menggunakan bahan bakar gas. Artinya, harga minyak yang tinggi tidak lagi membuat sumber daya terbarukan menjadi lebih kompetitif, sebagaimana terjadi sebelum ditemukannya shale gas.

Shale gas umumnya ditemukan pada kedalaman 7 000-10 000 kaki di bawah permukaan bumi, dimana air tanah atau aquifer maksimal berada 1000 kaki dibawah permukaan bumi. Untuk mengeksploitasi shale gas dapat digunakan dua jenis teknologi yaitu teknologi horizontal drilling dan hydrolic fracturing. Fluida yang dipakai untukfracturing terdiri dari campuran air, pasir dan bahan kimia. Sebanyak 25% dari air yang diinjeksikan untuk fracturing, langsung kembali ke permukaan setelah proses  fracturing selesai, dan sisanya 20% akan tercampur dengan gas sedikit demi sedikit pada saat produksi. Kondisi ini menyebabkan dalam eksplorasi, aspek cementing dan casingsumur menjadi hal yang paling utama,  untuk menjaga agar semen dan casing cukup kuat sehingga tidak terjadi kebocoran fluida melalui rekahan yang memungkinkan gas merembes ke lapisan aquifer pada bagian atas lapisan batuan shale. Dengan tingkat resiko seperti itu, maka faktor human error selama proses drilling, fracturing & production menjadi sangat penting.

Dalam beberapa kasus yang terjadi baru-baru ini, diketahui bahwa casing dan cementing yang buruk mengakibatkanfluida fracturing dan gas merembes ke lapisan air tanah dan dikhawatirkan mencemari air tanah.  Hal ini, membuat rakyat Amerika menuntut Pemerintah untuk merevisi undang-undang energi (Energy Policy Act 2005). Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahan kimia yang dipakai dalam fluida hydraulic fracturing dikecualikan dan dianggap sebagai rahasia dagang. Tuntutan untuk merevisi UU ini diantaranya bertujuan untuk mencabut pengecualian ini, dan mewajibkan industri gas untuk melaporkan bahan kimia yang dipakai ke U.S. Enviromental Energy Agency, serta memasukkan pasal yang mengaturnya ke dalam perundangan safe drinking water act. Saat ini tuntutan tersebut masih dalam proses hearing di Kongres dan Senat AS. (SM, dikutip dari berbagai sumber).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: